Musik Indie dan Kaos Distro

October 9, 2011
By

Lahirnya musik Indie adalah semacam bentuk negasi terhadap aliran musik mainstream yang ditandai dengan kemapanan dan kekuatan dalam hal produksi dan pemasaran. Label-label musik besar sudah pasti selalu kalkulatif ketika ingin mengorbitkan seorang penyanyi atau grup band. Kalau tidak ada nilai jual, tidak easy listening, tidak radio friendly, nggak bakalan mau dibiayai dan dipromosikan! Indie lahir karena kekuatan ekspresi dan aktualisasi. Anda menolak kami? Ya kami garap sendiri semuanya! Begitulah musik indie, yang dalam kaitan filsafat sejalan dengan pemikiran postmodernisme, yang kerap mau keluar dari pemikiran-pemikiran baku atau yang sudah disebutkan tadi : pemikiran mainstream.

Resiko dari para penganut aliran Indie adalah jelas masalah biaya produksi dan pemasaran. Ketika semua hal ini dilakukan secara mandiri, mereka harus mempersiapkan sendiri seluruh faktor pendukung pemasaran lagu mereka. Termasuk masalah penjualan merchandiser, kaos dan segala pernak-pernik band/artis. Jika pada musik mainstream, semua dikelola oleh label, pada musik indie kemudian muncul istilah Distro.

Beberapa pihak menyebut distro sebagai kependekan dari Distribution Store, yang lain mengatakan sebagai Distribution Outlet. Tapi intinya : adalah sebuah tempat untuk memasarkan barang-barang yang berhubungan dengan si band tersebut, misalnya bendera, stiker, kaos distro dan sejenisnya. Ketika pemasarannya tidak menggunakan company besar, jelas harga yang ditawarkan akan lebih murah dibanding sudah tersentuh kepentingan pasar.

Berawal dari musik, kini distro sudah menjadi “mainstream” juga. Dengan begitu menjamurnya pemilik distro dan begitu kencangnya budaya kaum muda yang menggunakan kaos distro. Ya kaos distro sudah menjadi lebih lekat pada kaum muda yang energik, aktualitatif dan ekspresif. Di satu sisi kaos distro mencoba mengambil psikologi keindividuan, namun saat yang sama mengusung juga semangat komunitas dan kelompok, dalam tataran komuniti yang kecil. Secara individual, kaos distro memang bersifat unik, namun sebagai wacana, kaos distro juga sudah mengarah kepada kemapanan dan ya itu : mainstream.

Kini di Indonesia distro yang menjual kaos murah sudah sangat banyak, dan kebanyakan sudah tidak lagi merupakan pemasaran para band indie. Tapi sudah murni urusan bisnis. Begitulah, yang dulu kecil, kemudian digemari, bisa saja menjadi mainstream juga. Seperti yang pernah dibakukan oleh Filsuf Jerman Immanuel Kant : thesis – antithesis bermuara pada sinthesis. Dan sinthesis tersebut akan kembali dihajar oleh antithesis baru. Demikian seterusnya.

Tags: distro, kaos

Tautan Penting :
Grosir Tanah Abang - perlengkapan bayi - parfum original - jelly gamat - grosir baju

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*